Air-Dried and Wet Fixation on Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) Specimen

Main Article Content

Fitri Nuroini

Abstract

Kualitas pewarnaan Diff-Quick bergantung pada beberapa faktor diantaranya adalah metode fiksasi yaitu fiksasi kering dan fiksasi basah. Kedua metode tersebut memiliki kekurangannya masing-masing, fiksasi kering dapat menyebabkan pecahnya sel sedangkan fiksasi basah lebih memakan waktu dan biaya dalam pengerjaannya, namun fiksasi kering lebih sering digunakan karena lebih cepat dan murah. Tujuan penelitian untuk membandingkan hasil pewarnaan Diff-Quick sediaan sitologi yang difiksasi dengan metode fiksasi kering dan metode fiksasi basah. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Sampel diperoleh dari RS K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang berjumlah 36 sediaan yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok fiksasi kering, dan kelompok fiksasi basah. Ketiga kelompok tersebut diwarnai dengan Diff-Quick. Pewarnaan sediaan fiksasi kering memberikan hasil 4 sediaan kurang baik, 5 sediaan baik, dan 3 sediaan sangat baik sedangkan pewarnaan sediaan fiksasi basah memberikan hasil 0 sediaan kurang baik, 8 sediaan baik, dan 4 sediaan sangat baik. Hal ini menunjukkan hasil pewarnaan sediaan yang difiksasi basah memiliki kualitas yang cenderung lebih baik dan lebih konsisten dibanding hasil pewarnaan sediaan fiksasi kering. Meskipun secara statistik melalui uji Post-Hoc menunjukkan tidak ada perbedaan, kualitas pewarnaan Diff-Quick sediaan sitologi yang difiksasi dengan metode fiksasi basah lebih baik dari pada fiksasi kering.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Nuroini, F. (2021). Air-Dried and Wet Fixation on Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) Specimen. Jurnal Teknologi Laboratorium, 10(1). https://doi.org/https://doi.org/10.29238/teknolabjournal.v10i1.279
Section
Serology

References

1. Directorat General of Health Services, Ministry of Helath adan Family Welfare, Government of India. 2005. Manual for Cytology. https://screening.iarc.fr/doc/Cancer_resource_Manual_3_Cytology_New.pdf.
2. Orell, S. R. dan Sterrett, G. F. 2012. Orell & Sterrett’s Fine Needle Aspiration Cytology. 5th ed. Edinburgh: Churchill Livingstone.
3. Khristian, E. dan Inderiati, D. 2017. Sitohistoteknologi. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Al-abbadi, M.A. 2011. Basic of Citology. Avicenna Journal of Medicine. 1(1): 18-28. DOI: 10.4103/2231-0770.83719.
5. Lukas, H. 2016. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa Manusia Menggunakan Metode Pewarnaan Papanicolaou, Diff-Quik dan Safranin-Kristal Violet di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Tesis. Universitas Airlangga Suarabaya.
6. Jorundsson, E., Lumsden, J. H. dan Jacobs, R. M. 1999. Rapid Staining Techniques in Cytopathology : A Review and Comparison of Modified Protocols for Hematoxylin and Eosin, Papanicolaou and Romanowsky Stains. Veterinary Clinical Pathology. 28(3): 100–108.
7. Lowe, J. S. dan Anderson, P. G. 2015. Stevens & Lowe’s Human Histology. 4th ed. Philadelphia: Mosby.
8. Jhala, N. dan Jhala, D. 2014. Definitions in Tissue Acquisition: Core Biopsy, Cell Block, and Beyond. Gastrointestinal Endoscopy Clinics of NA. Elsevier Inc. 24(1): 19–27.
9. Walker, D. B. dan Zabolotzky, S. M. 2013. Peripheral Blood Smears. Cowell and Tyler’s Diagnostic Cytology and Hematology of the Dog and Cat. 4 ed. St. Louis: Elsevier Inc., hal. 457–487. Tersedia pada: book.google.co.id/books?id=JE9WAgAAQBAJ&hl=id&source=gbs_navlinks_s. Diakses pada 28 September 2020.
10. Wolman, M. 1955. Problems of Fixation in Cytology. Histology. and Histochemistry. Internaitonal Review of Cytology. 4: 79–102.